niniknursanti

Just another WordPress.com site

bulbus dan fibromatosa June 10, 2012

Filed under: Uncategorized — niniknursanti @ 8:41 am
  1. A.    TINJAUAN PUSTAKA

 

  1. 1.      PENGERTIAN

Bulbus fibromatosis adalah pembesaran tumor jinak yang tumbuh perlahan, progresif, yang dapat menempati gingival marginal, gingival cekat dan papila interdental. Pembesaran karena adanya peningkatan komponen jaringan ikat pada submukosa. Etiologinya dapat multifaktorial, herediter dan tidak dapat diketahui pasti, tetapi dapat dilihat dari 3 faktor : sifat rentan masing-masing individu, faktor lokal (food debris, plak gigi,karies), serta aksi dari substansi kimiawi dan metabolitnya (Chaturvedi, 2009).

Fibromatosus / Fibrous enlargement adalah suatu kondisi yang jarang terjadi, dimana kondisi ini ditandai dengan adanya pembesaran gingiva yang lambat pada kedua rahang, baik maksila maupun mandibula, warnanya seperti warna gingival normal dengan konsistensi cekat, dan jaringan ikat gingiva pada lapisan submukosa terdiri dari jaringan keloid dan serabut kolagen. Pembengkakan biasanya tidak sakit, berkembang lambat, dan bergantung pada derajat kebersihan oral individual. Jaringan yang hiperplasi biasanya apabila di palpasi terasa solid (padat), mengalami inflamasi,dan edena. Edema dapat menyebabkan beberapa permukaan yang berhadapan dengan gigi menjadi seperti spons, eritema, dan mudah berdarah. Biasanya fibromatosis tidak menutupi seluruh permukaan gigi  (Caranza, 2006).

Gingivektomi merupakan pilihan penanganannya, namun mungkin dibutuhkan untuk mengulanginya tiap jangka waktu tertentu. Memperbaiki kebersihan mulut menolong dalam mengurangi kejadian berulang (Both et al,2007).

Pembesaran fibrosa pada tuberositas maksila dapat dikurangi dengan membuat dua insisi sepanjang puncak tulang alveolar, menyudut menuju pusat ridge hingga tulang. Bentukan segitiga dari irisan jaringan dihilangkan dan ‘fillet’ (potongan tipis yang tidak bertulang) dari jaringan lunak dipotong dari tiap flap. Tepi-tepi dari yang dikenai luka kemudian disambung menjadi satu (Pedlar dan Frame, 2001).

  1. 2.      ETIOLOGI

Gingival fibromatosis dapat diperoleh dari pengobatan dengan fenitoin, cyclosporine, nifedipine atau kalsium channel blocker lainnya. Pada fibromatosis gingival, jaringan ikat membesar dan berkumpul dan terkadang hingga menutupi gigi. Hiperplasia fibrosa ditemukan sepanjang tulang alveolar. Drug-induced fibromatosis gingival dihubungkan dengan kebersihan mulut yang buruk (Both et al,2007). Sedangkan menurut Laskaris (2006), dapat dikarenakan penyakit lokal, pengaruh obat, penyakit sistemik, dan tumor.

Fibromatosus gingival dan tuberositas, keduanya diduga sebagai proses reaktif, harus dibedakan dari fibromatosis yang “true” proliferative lesi dari jaringan ikat, menginfiltrasi disekitar jaringan, sering menunjukkan pola pertumbuhan yang relentless dan cenderung untuk berulang (rekuren) (Both et al,2007).

  1. 3.       KLASIFIKASI
  2. Bulbous Tuberositas

Pembesaran fibromatosus pada tuberositas pada edentulous maksila atau mandibula area molar ketiga dapat mengurangi ruang intermaksila, yang dapat mempengaruhi pembuatan denture. Pembesaran fibromatosus dapat menyebabkan undercut pada bukal dan juga palatal, seperti prevent of extension dari buccal denture flange sampai vestibulum atau untuk adekuat palatal seating dan sealing border posterior. Ini berarti menyebabken retensi yang jelek pada gigi tiruan (Archer, 1966).

  1. Palatal Fibromatosus

Terdapat massa jaringan fibrous yang dapat mempengaruhi denture maksila (Archer, 1966).

  1. Gingival Fibromatosis

Ini merupakan kondisi benigna. yang mempunyai ciri pembengkakan yang progress lambat pada proper gingiva (gingiva cekat) dan alveolarmukosa (loose gingiva). Lesi dapat bersifat general atau local dan kedua-duanya yang dapat disebabkan oleh herediter. Secara klinis, hiperplasi gingiva yang besar ditemui, dapat menyelimut sebagian atau seluruh mahkota gigi. Permukaan gingiva lobular, reddish, dan kokoh pada saat palpasi, terdapat inflamasi dan resorpsi tulang. Treatmennya adalah bedah dan eksisi segmental pada gingival.

  1. 4.       INDIKASI
  2.  Ketika pembesaran fibromatosis pada tuberositas maxilla atau mandibula pada area molar ketiga mengurangi ruang intermaksilaris sehingga tidak memungkinkan untuk membuat prothesa yang efisien (Archer, 1966).
  3. Walaupun fibromatosis tidak meluas hingga ruang intermaksilaris, pembesaran fibromatosis ini sering menyebabkan terjadinya undercut pada bagian bukal, terkadang pada bagian palatal. Hal ini dapat menyebabkan retensi yang sedikit (Archer, 1966).
  4. Tuberositas pada kasus edentulous terkadang menjadi sangat besar sehingga mudah mengalami trauma karena mastikasi dan inflamasi (Archer, 1966).
  1. 5.       KONTRAINDIKASI
  2. Pasien dengan hipertensi (tekanan darah tinggi). Pasien dengan hipertensi yang tidak terkontrol tidak dapat dilakukan bedah periodontologi selama tekanan darah masih sangat tinggi.
  3. Pasien yang memiliki penyakit sistemik.

Penyakit atau kondisi sistemik yang relative kontraindikasi terhadap pembedahan periodontal termasuk kondisi seperti :

  1. Riwayat infark miokardium
  2. Hipertensi yang tidak terkontrol
  3. Diabetes yang tidak terkontrol
  4. Dialysis ginjal
  5. Kelainan darah
  6. Riwayat radiasi pada mandibula
  7. Infeksi HIV

Dapat menjadi catatan bahwa konsultasi dengan dokter yang merawat pasien selalu diindikasikan jika terdapat keraguan mengenai status kesehatan pasien dan bagaimana status tersebut dapat mempengaruhi perencanaan intervensi pembedahan periodontal.

  1. Pasien yang memiliki risiko tinggi terhadap karies gigi

Pembedahan periodontal seringkali berakibat terdapat pemaparan akar gigi. Pada pasien dengan karies gigi yang tidak terkontrol di mana karies gigi akan menjadi cukup tinggi, pembedahan periodontal tidak diinidkasikan karena dapat mengakibatkan terjadinya rampant akar gigi (Nield-Gehrig dan Willmann , 2008).

  1. Gingival yang berlekuk-lekuk, tipis, dan sempit yang cenderung untuk mengalami penyusutan setelah traumatic atau inflamasi kornis merupakan kontraindikasi gingivektomi (Müller, 2005).  Gingivektomi tidak dianjurkan pada keadaan ketika kedalaman poket terlalu dalam pada apical hingga mucogingival junction atau ketika tidak terdapat cukup gingiva berkeratin yang berhubungan dengan poket yang dangkal. Hal ini akan menyebabakan margin gingival akan tersusun atas mukosa alveolar setelah dilakukan gingivektomi. Selain itu, Ketika mukosa alveolar tersusun atas dinding jaringan lunak yang berasal dari poket gingiva. Ketika perlekatan frenum atau otot terdapat pada area pembedahan dan ketika deformitas estetik dapat terjadi sebagai akibat dari resesi gingival (Vernino, 2008).
  2. 6.       PROSEDUR PENGANGKATAN
  3. A.    FIBROMATOSIS PALATUM

Palatal memiliki massa jaringan fibrous sehingga mengganggu konstruksi gigi tiruan rahang atas. Perbesaran fibromatosa dikurangi hingga mencapai kontur palatum yang diinginkan. Palatum yang sakit ini dilindungi dengan menggunakan gauze iodoform yang terbungkus spons, permukaan palatum ditutupi campuran tipis zink oksida dan eugenol selama 72 jam pertama. Spons diletakkan kemudian dilakukan suturing dan melalui jaringan mukoperiosteal pada tepi alveolar kiri dan kanan. Cetakan dapat diambil, jika mungkin, pada saat pembedahan dan pembuatan splint akrilik untuk melindungi palatum selama epitelialisasi setelah spons diambil (Acher,1966).

 

  1. B.     PEMBESARAN FIBROMATOUS DI RAHANG BAWAH

Pemeriksaan radiografik dilakukan sebelum pembedahan untuk menentukan apakah massa tuberositas itu padat, keras, berupa jaringan seperti jaringan fibrous atau merupakan molar tiga yang tidak tumbuh atau berupa tulang (Acher, 1966).

Setelah pemberian anestesi lokal, gigi dengan mobilitas tinggi dihilangkan. Insisi dibuat pada tepi alveolar dan gingival hiperplastik direfleksikan di bukal maupun lingual Eksisi lesi dilakukan pada segmen dengan teknik bevel secara hati-hati supaya nervus mental dan lingual tidak terluka (Frakisgos,2007).

Menurut Acher (1966), untuk kasus bulbus fibromatosis dapat menggunakan teknik reduksi fibromatosis. Tujuan operasi ini ialah untuk mengurangi pembesaran fibromatous pada tuberositas atau pembesaran fibromatous gigi molar 3 rahang bawah demi kenyamanan (baik ukuran maupun bentuk). Jika sepertiga massa bulbus dieksisi dari pusat dan dua per tiganya berada pada submukosa, kemudian diambil bersama dan dijahit, hasil yang diinginkan akan diperoleh (Acher,1966).

Sebelum membuat insisi melalui massa jaringan, operator harus mengetahui garis insisi pada tuberositas atau melebihi jaringan fibromatosa pada area gigi molar tiga bawah. Hal ini dilakukan untuk menandai secara akurat sepertiga wedge section yang akan dipotong. Potongan berbentuk wedge berasal dari titik yang sama, di area puncak tepi yang merupakan hubungan tepi normal dan awal fibromatosis, dan berakhir pada titik aspek posterior tuberositas. Insisi berbentuk huruf V ini dibuat menggunakan blade Bard- Parker no 15 yang diletakkan pada pusat massa sehingga blade berkontak dengan tulang. Jaringan berbentuk wedge dipegang menggunakan forcep Allis, diangkat dari tepinya dan dibebaskan dari tulang cortical (Acher,1966).

Tuberositas yang membesar dikurangi dengan membuat flap bukal dan lingual yang besar, mengurangi ukuran menggunakan chisel atau bone shears, penghalusan menggunakan bone file, menggantikan jaringan lunak, mengurangi kelebihan jaringan, dan suturing. Tuberositas yang mengalami elongasi dikurangi dengan cara: pengambilan data radiografik pada area gigi yang mengalami ekstrusi karena tidak memiliki gigi antagonis (mengetahui dasar sinus maxillaries sebelum memotong tuberositas), insisi mukoperiosteum sepanjang puncak tepi dan lipatan mukobukal, flap dikembalikan di bukal dan lingual, tulang dikurangi menggunakan chisel, ekstraksi gigi dilakukan, tuberositas dikurangi dengan bone shear hinga kira-kira berukuran sama dengan tepi anterior, jaringan lunak digantikan dan kelebihan bagian yang overlap dihilangkan yaitu setengah dari palatum kemudian tepi dijahit menggunakan continuous suture (lock stitch continuous black silk sutures) (Acher,1966).

  1. 7.       MEDIKASI PASCA OPERASI

Setelah prosedur pembedahan kapas yang diberikan campuran eugenol dan bubuk zink oksida ditempatkan mengelilingi leher gigi selama 96 jam lalu setelah itu dilepas atau dapat juga diberi bahan seperti putty sementara pada garis gingiva. Bahan ini akan melindungi gingiva ketika sedang dalam proses penyembuhan, bahan ini memungkinkan pasien untuk dapat makanan lunak dan meminum cairan setelah operasi. Selain itu, permukaan yang telah dibersihkan dapat juga dilindungi dengan menggunakan surgical pack. Prosedur ini dilakukan sekitar 1-2 jam. Jahitan dipertahankan pada tempatnya selam kira-kira satu mingu(Anonim, 2008).

Pengobatan pasca bedah :

  1. Dressing periodontal COE-PAK untuk mengontrol perdarahan (Anegundi, et al, 2006).
  2. Chlorhexidine gluconate 0,12% 2 kali sehari selama 1 minggu (Kelekis-Cholakis, 2002) .
  1. B.     KESIMPULAN

 

Bulbus fibromatosis adalah pembesaran tumor jinak yang tumbuh perlahan, progresif, yang dapat menempati gingival marginal, gingival cekat dan papila interdental. Pembesaran karena adanya peningkatan komponen jaringan ikat pada submukosa. Etiologinya dapat multifaktorial, herediter dan tidak dapat diketahui pasti, tetapi dapat dilihat dari 3 faktor : sifat rentan masing-masing individu, faktor lokal (food debris, plak gigi,karies), serta aksi dari substansi kimiawi dan metabolitnya.

 

 

DAFTAR PUSTAKA

  

Anegundi, R. T., et al. 2006. Idiopathic Gingival Fibromatosis : A Case Report. Hong Kong Dental Journal. 3(1); 53-57.

Anonim.2008.Gingivectomy and Gingivoplasty (Gum Removal). Cosmetic Dentistry Centre. http://www.cosmetic-dentistry-centre.com/gingivectomy-and-gingivoplasty-gum-removal.

Archer, WH. 1966. Oral Surgery : A Step by Step Atlas of Operative Techniques. 4th edition. Philadelphia: WB Saunders Company.

Booth, Ward, Schendel, Stephen A, Hausamen. 2007. Maxillofacial Surgery. China: Churcill Livingstone.

Carranza FA. 2006. Caranza’s Clinical Periodontology. 10 Editiom. Philadelphia : WB Sounders.

Frakisgos FD. 2007.Oral Surgery. Berlin:Springer-Verlag.

Kelekis-Cholakis, et al. 2002. Treatment and Long-Term Follow-up of a Patient with Hereditary Gingival Fibromatosis : A Case Report. J Can Dent Assoc. 68(5); 290-294.

Laskaris G. 2006. Pocket Atlas of Oral Diseases. Stutggart : Thieme Verlag.

McGowan DA. 1999. An Atlas of Minor Oral Surgery. 2nd edition. New York : Martin Dunitz.

Müller HP. 2005. Periodontology: the essentials. New York : Thieme.

Nield-Gehrig JS, Willmann DE. 2008. Foundations of Periodontics for the Dental Hygienist. Baltimore. Lippincott Williams & Wilkins.

Pedlar J, Frame JW. 2001. Oral and Maxillofacial Surgery. Spanyol: Churcill Livingstone.

Vernino AR, Gray J, Hughes E. 2008. The Periodontic Syllabus. Baltimore : Lippincott Williams & Wilkins.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s